Kamis, 08 Mei 2008

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
DALAM GEREJA


Pendahuluan
Pendidikan Agama Kristen(PAK) yang merupakan sebagai tugas gereja, kini fungsinya tersebut sudah mulai kurang diperhatikan di dalam lingkungan gereja dimana sebenarnya PAK merupakan suatu fungsi gereja yang amat penting terutama dalam tugas pengajaran dan pendidikannya. PAK itu tak lain dan tak bukan hanyalah suatu pemberian dan amanat Tuhan sendiri kepada jemaat-Nya(Ef. 4:11) dimana tugas tersebut diletakkan dan dipercayakan kepada gereja-Nya di bumi ini. Jadi sudah seharusnyalah PAK di dalam gereja dikembangkan guna memmbimbing jemaat- jemaat supaya mengenal ajaran- ajaran asasi dari agama Kristen dan mempraktekkan dalam keseharian hidup mereka sehingga dapat membina suatu perilaku Kristen yang benar.
Permasalahan yang dihadapi gereja di dalam mengembangkan pengajaran PAK sangat kompleks dan rumit. Setiap permasalahan memerlukan solusi yang sudah seharusnya menjadi pokok pikiran kita sekalian. Makalah ini berusaha memberikan sedikit sumbangan bagi pengembangan PAK di gereja lokal.
Penulis memiliki beberapa tujuan penulisan. Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam menulis makalah ini adalah: pertama, menyatakan pentingnya peranan PAK di dalam pertumbuhan rohani gereja-Nya; kedua, membantu memimpin jemaat kepada pengenalan yang sempurna mengenai peristiwa- peristiwa yang terdapat dalam Alkitab dan pengajaran- pengajaran melalui PAK yang mendidik dan penuh pengajaran; dan ketiga, supaya jemaat hidup sebagai orang Kriten yang bertanggung jawab pada kepercayaan dan imannya melalui tugas- tugas yang terdapat dalam PAK.

Pembahasan
Jika kita berbicara mengenai Pendidikan Agama Kristen sudah pasti akan berkaitan dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu terlebih dahulu kita harus mengetahui arti dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan merupakan suatu sistematsi dari proses belajar- mengajar yang didalamnya terdapat interaksi di dalam komunitas. Jadi didalamnya terdapat sesuatu yang berarti, yaitu belajar yang merupakan suatu kegiatan penambahan pengetahuan dan proses perubahan tingkah laku. Belajar haruslah suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu dan dari yang kurang jelas menjadi jelas sehingga belajar berarti menambah wawasan pengetahuan.
Sama seperti penjelasan di atas, PAK juga merupakan proses pengajaran dan pembelajaran namun berdasarkan pada kebenaran Alkitab,berpusat pada Kristus, dan yang bergantung pada kuasa Roh Kudus. Pembelajaran disini memiliki arti pembelajaran bagi pribasi menuju kedewasaan, sedangkan pengajaran mempunyai arti sebagai penyediaan dan dorongan bagi proses pembelajaran yang efektif.
PAK berusaha membimbing pribadi- pribadi pada semua tingkat pertumbuhan usia melalui system pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan untuk memperlengkapi pelayanan yang efektif. Di sini fungsi PAK sebagai penyedia, pendorong, dan sebagai fasilitator dalam pembimbingan. Jadi, kita sampai kepada kesimpulan bahwa PAK yang Alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai kebenaran Firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya yang bermuara pada kedewasaan murid di dalam Kristus.
PAK juga merupakan salah satu dari tugas- tugas terpenting gereja. Matius 28:19- 20 yaitu amanat agung Tuhan Yesus yang memerintahkan kita sebagai umat tebusan-Nya untuk menjadikan segala bangsa murid- Nya dan mengajar mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Efesus bahwa Tuhan telah mengambil dan mengangkat beberapa anggota gereja untuk menjadi rasul, nabi, pemberita- pemberita Injil, maupun gembala- gembala, dan pengajar. Oleh karena itu PAK merupakan tugas gereja yang penting dan berpengaruh terhadap perkembangan gereja. Sudah selayaknya dan sewajarnya PAK terhisap sebagai tugas gereja yang sah sehingga harus dilaksanakan oleh seluruh anggota jemaat.
Kalau dilihat dari penjelasan Ensiklopedi Pendidikan, secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai semua erbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya pengalamannya, kecakapannya, dan ketrampilannyakepada generasi muda sebagai usaha agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. Penjelasan itu menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha atau upaya sadar tujuan, atau bersengaja. Jadi dengan demikain setiap usaha pendidikan haruslah menuntut perencanaan, strategi, dan pendekatan.
Dari segi istilah, pendidikan dapat dikatakan berasal dari dua kata Latin educatus dengan istilah jabarannya educane dan educene. Yang pertama memberi arti “merawat, memperlengkapi dengan gizi agar sehat dan kuat”. Yang kedua memberi arti “membimbing keluar dari…”. Berdasarkan pengertian ini, pendidikan dapat dikatakan sebagai upaya sadar dan bersengaja untuk memperlengkapi seseorang atau sekelompok orang guna membimbing keluar dari suatu tahapan(keadaan) hidup ke suatu tahapan hidup lainnya yang lebih baik. Adapun beberapa komponen pendidikan antara lain :
Pertama, pelaku pendidikan (SIAPA). Pendidikan akan berlangsung karena adanya pelaku pendidikan, baik pendidk maupun peserta didik.
Kedua, konteks pendidikan (DIMANA). Pendidikan harus memiliki konteks, ruang, dan waktu, di mana setiap konteks memiliki ciri khas sendiri.
Ketiga, sifat atau isi pendidikan (APA). Kegiatan pendidikan berhubungan dengan materi perbincangan yang tentunya berbeda-beda.
Keempat, metode pendidikan (BAGAIMANA). Dalam mentransfer isi pendidikan, biasanya setiap pendidik memikirkan bagaimana pendekatan yang terbaik dalam berinteraksi.
Kelima, kesiapan atau waktu (KAPAN ATAU BERAPA LAMA). Dalam melakukan tindakan pendidikan, terlebih dahulu harus memiliki kesiapan dan waktu.

Suatu fenomena yang tiada tandingnya juga dalam sejarah dunia kita ini, salah satunya adalah pertumbuhan gereja di mana kian lama gereja kian banyak. Sejak gereja muncul hingga abad ini, jumlah jemaat di dalam gereja berkembang begitu pesat. Semua ini menyatakn bahwa mandate Illahi Allah bagi gereja-NYa, yaitu Mandat pemberitaan Injil keselamatan dalam Yesus Kristus telah mengalami banyak perkembangan juga.
Allah Tritunggal sendiri yang telah mendirikan dan menumbuhkan gereja-Nya di mana Ia juga yang mengembangkannya dan tiada suatu kuasa pun yang dapat menghentiknnya (Mat.10:18). Allah juga enetapkan kuasa-kuasa-Nya untuk mencapai kemenangan, yaitu Roh-Nya yang kudus sebagai dinamika sentral yang bekerja melalui sarana-saranatertentu, yaitu hamba-hamba Allah, gereja Allah, dan abar kesukaan dari Allah.
Gereja yang telah didirikan Yesus, tentunya mempunyai tugas-tugas guna pertumbuhan rohani jemaat-Nya. Dari begitu banyak tugas-tugas yang diembankan kepada gereja, salah satunya adalah mengajar (Mat.28:20) “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dalam amanat ini dijelaskan supaya kita mengajar kebenran-kebenaran tentang apa yang sudah diajarkan Tuhan Yesus kepada seluruh bangsa dan Tuhan yesus sendiri akan selalu memberikan penyertaan-Nya kepada mereka yang mengajar. Jadi, melalui program PAK di dalam gereja juga telah melakukan amanat agung Tuhan yesus tersebut. Pelaksaan pengajaran ini tentunya mempunyai tujuan antara lain :
Pertama, memimpin murid selangkah demi selangkah kepada pengenalan yang lebih sempurna mengenai peristiwa-peristiwa yang terdapat di dalam Alkitab dan pengajaran-pengajarannya.
Kedua, membimbing murid dalam cara menggunakan kebenran-kebenaran asasi Akitab itu inutk keselamatan hidupnya.
Ketiga, mendorong untuk mempraktikkan asas-asas Alkitab itu supaya membina suatu perangai Kristen yang kukuh.
Keempat, menyakinkan supaya mengakui bahwa kebenran dan asas tersebut menunjukkkan jalan guna pemecahan masaah-masalah kesusilaan, social, dan politik di dunia ini.
Seorang pendeta yang berkhotbah dalam kebaktian, tentu saja juga mengajar jemaat melalui khotbahnya tersebut. Semakin jemaatnya lapar rohani, semakin berusaha pula supaya khotbahnya menyajikan makanan rohani yang baik dan sehat. Khotbah itu bukan tertuju pada perasaan dan kehendak manusia saja, tetapi juga kepada akalnya. Jemaat haru belajar dari padanya tentang firman Tuhan. Pengetahuan dan pengertian mereka akan penyataan Tuhan itu harus diperdalam da diperluas pula. Begitu pula sebaliknya, segala aktivitas PAK itu, juga di luar kebaktian, senantiasa harus bersifat khotbah juga, artinya pengajaran itu tak boleh turun derajatnya menjadi sekedar penyampaian pengetahuan secara teori saja, melainkan harus mempertemukan firman Tuhan sendiri dengan para murid itu, dan PAK itu harus bersuasana ibadat juga.
Untuk itu hendaklah di dalam pengembangan gereja ditambahkan dengan penerapan pengajaran juga guna pertumbuhan rohani jemaatnya di dalam gereja.
Selain itu juga, untuk mencapai tujuan yang jelas dan tegas dalam melakukan tugas pengajaran dalam gereja tentunya perlu wujud dari objek-objek PAK itu sendiri. Seperti kita melakukan suatu pekerjaan, tentu harus ada tujuan yang akan kita capai nantinya. Bisa saja menjadi suatu ketidakmungkinan apabila kita bekerja dengan selayaknya selama belum ada objek yang tentu, malh menjadi sesat jalannya.
Sekarang bagaimana persoalannya menentukan objek-objek PAK tersebut. Untuk itu perlu memperhatikan beberapa hal dalam menentukan objek-objek PAK tersebut.
Pertama, dalam mencari dan menentukan objek itu sudah tentu firman Tuhanlah yang merupakan satu-satunya dasar dan pangkalan bagi usaha itu.
Kedua, Objek itu harus sesuai dengan sifat gereja kita sendiri.
Ketiga, penentapan objek dan pembagian harus dilakukan sesuai dengan unsur murid-muridnya.
Keempat, latar belakang murid-murid yang juga perlu diperhatikan untuk menentukan objek PAK.
Kelima, objek pengajaran kita juga perlu berhubugan dengan macamnya PAK.
Keenam, harus senantiasa sadar akan kebutuhan khusus para pelajar atau pendengar kita.
Dalam PAK, metode merupakan suatu pelayanan, suatu pekerjaan yang aktif yang kita lakuka bagi firman Tuhan dan bagi sesamanya manusia supaya ada pertemuan satu sama lain. Metode senantiasa hanya jalan dan alat saja, bukan tujuan. Kita harus selalu menuju kepada firman Tuhan; tak boleh kita menggunakan metode kita supaya mendapatkan hasil dan sukses secara duniawi sehingga tujuan gereja kurang diperhatikan lagi. Seharusnya dengan rendah hati dan setia kita hatus melayani melalui firman Tuhan saja dengan cara-cara yag kita pakai dalam pekerjaan kita, serta mengharap bahwa metode-metode itu akan menghasilkan iman, pengetahuan dan penuturan, dalam kehidupan para murid.
Untuk itu, metode apa yang hrus kita pakai?Ada dua macam metode berbeda mengenai pendidikan. Yang pertama disebut “metode otoriter”, metode ini memakai kuasa(otoritas) dari atasan. Yang kedua dinamakan “metode kreatif’, ialah metode yang hendak menciptakan sesuatu.
Metode otoriter mau menyampaikan suatu ajaran yang lengkap kepada orag didikannya. Orang didikan itu harus menerima saja, serta tunduk kepada kuasa gurunya. Kita mengajarkan apa yang kita anggap sebagai kebenaran dan pelajar kita hanya bertugas untuk belajar pada kita dengan tak usah bersoal jawab. Kita tahu apa yang harus dipercaya; sebab itu murid kita harus menyambut dan mengakui apasaja yang diberikan kepada mereka.
Lainnya halnya metode kreatif. Metode ini menitikberatkan pada kebebasan seseorang untuk berpikir mandiri. Guru bukan penguasa atau pemberi perintah, namun ia seorang yang mampu memberikan pedoman dan juga sebagai seorang fasilitator. Guru berusaha untuk menanamkan bibit kepercayaan terhadap apa yang diajarkan, keyakinan dan pengakuan yang sewajarnya pada apa yang dipercaya dan diajarkan oleh guru. Proses pendidikan seharusnya berjalan dengan spontan dan bukan dengan paksa. Pendidikan semacam ini menggunakan komunikasi dua arah, antara guru dan murid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar